Perbedaan Antara Mesir, Padang Gurun, dan Kanaan

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Begitulah sebuah peribahasa mengatakan. Artinya, setiap tempat ada aturannya sendiri. Ada hukum-hukumnya sendiri. Jadi, beda tempat, beda pula tata cara dan aturan mainnya. Begitu juga dengan tempat-tempat yang dilalui oleh orang-orang Israel. Ada perbedaan antara Mesir, Padang Gurun, dan Kanaan.

Mesir

Mesir adalah rumah PERBUDAKAN. Ketika tinggal di Mesir, bangsa Israel diperbudak. Mereka diperlakukan dengan kejam, dan raja Mesir sengaja memahitkan hidup mereka dengan pekerjaan yang berat.

Mereka ditindas, kerja keras, haknya dirampas, kebebasan mereka dibatasi dan semua serba ditentukan oleh penguasa Mesir. Dengan terpaksa mereka juga harus rela kehilangan setiap bayi laki-laki mereka yang baru dilahirkan. Di negeri inilah, bayi-bayi lelaki Israel menjadi korban pembunuhan legal bangsa Mesir. Intinya, di Mesir, bangsa Israel mengalami kesengsaraan, Penderitaan, dan Penindasan yang luar biasa (Kel 3:7-9).

Padang Gurun

Padang Gurun adalah rumah PEMROSESAN. Di padang gurun inilah Allah memproses, memurnikan, dan membersihkan bangsa Israel dari noda Mesir (mental seorang budak). Karena terlalu lama diperbudak, mereka menjadi kebal terhadap perbudakan. Bahkan, mereka bisa memandang bahwa menjadi budak itu baik. Buktinya, ketika mereka dikejar musuh, ketika kekurangan air, ketika tidak ada makanan di padang gurun, mereka ingin kembali ke Mesir. Ketika ada tantangan di Padang Gurun, Israel menjadi unlogic.

Pemikirannya tidak logis lagi. Ia tidak bisa melihat janji Allah yang besar yang ada di depan. Bahkan sebaliknya, dalam pemberontakannya kepada pemimpin, mereka mengatakan tentang kebaikan hidup di Mesir. Mereka mengatakan bahwa di Mesir mereka bisa makan daging dan roti sampai kenyang.

Apakah benar kondisi mereka saat di Mesir seperti itu? Itu hanya omong kosong, bualan anak kecil yang tidak berani menghadapi tantangan dan ingin kembali ke masa lalu. Jelas-jelas di Mesir mereka diperbudak, penuh kesengsaraan, penderitaan, dan penindasan, bagaimana mungkin mereka bisa makan daging dan roti sampai kenyang?

Sayang sekali, mereka gagal dalam rumah pemrosesan ini. Mereka mati. Generasi berikutnyalah yang mewarisi janji Allah tentang Tanah Kanaan. Mengeluarkan Israel dari Tanah Mesir itu memang tidak mudah, namun lebih sulit lagi mengeluarkan Mesir dari hati Israel. Secara fisik, mereka sudah tidak tinggal di Mesir, namun hati mereka masih penuh dengan tradisi, budaya, kebiasaan, tata cara, pola hidup, dan pengharapan hidup di Mesir.

Kanaan

Kanaan adalah rumah KELIMPAHAN. Di Tanah Kanaan inilah Israel mengalami kelimpahan, namun sebelumnya mereka harus melakukan dua hal;

  • Pertama, perang untuk mendapatkan tanah dan jarahan.
  • Kedua, menabur atau menanam. Sehingga bagi mereka yang mau melakukan dua- duanya, mereka benar-benar menikmati kelimpahan dari Tanah Kanaan.

Refleksi

Dari perjalanan Israel ini kita bisa memetik beberapa pelajaran:

  1. Sadari bahwa Mesir adalah rumah perbudakan yang harus kita tinggalkan. Kita harus meninggalkan apa pun yang memperbudak kita. Itu bisa berupa kebiasaan buruk, dosa, keterikatan, tempat yang nyaman namun sebenarnya menghancurkan, juga termasuk pengharapan-pengharapan yang tak kunjung datang yang membelenggu dan menyebabkan kita tidak fokus pada Tuhan.
  2. Merelakan hidup untuk diproses oleh Allah. Kita tidak perlu memberontak dan lari ketika ada tantangan yang rasanya seperti ada di tengah padang gurun. Yang kita butuhkan adalah kekuatan dan kemampuan dari Allah untuk menanggung saat proses Allah berlangsung dalam hidup kita.
  3. Berani bertindak untuk mendapatkan kelimpahan. Berani menabur dan berani berperang melawan “raksasa-raksasa” kehidupan

Tuhan Yesus memberkati.

Ref: writer-ka Srikin

Thanks for sharing!

Daftar Isi